29/11/11


SMKN 1 Sebatik Barat Usulkan Boarding School

NUNUKAN-Berbatasan langsung dengan negara tetangga Tawau, Malaysia, Pulau Sebatik kerap kali menjadi destinasi anak-anak TKI untuk dijadikan tempat menuntut ilmu. Seperti halnya di SMK N I Sebatik Barat. Hampir 30 persen dari 240 siswanya, didominasi anak TKI. Tak jarang pula diantara anak ‘pahlawan devisa’ tersebut, terpaksa menumpang dirumah keluarga, kerabat dekat, rumah guru hingga menyewa kos-kosan.
Melihat tingginya kebutuhan pendidikan anak-anak TKI di perbatasan, Kepala Sekolah (Kepsek) SMK N I Sebatik Barat Muhammad Gafur SPd mengusulkan, sekolah yang dia pimpin dapat dijadikan Boarding School atau sekolah yang dilengkapi sarana asrama.
“Sarana asrama ini sangat penting. Terutama siswa-siswi yang sama sekali tidak punya keluarga di Sebatik. Logikanya begini. Kalau anak TKI itu menumpang dirumah keluarga, otomatis apapun aktivitas keluarganya, suka tidak suka dia harus ikut membantu. Kalau terus-terusan begitu, khawatir siswa tadi terganggu konsentrasi belajarnya,” tukas Gafur.
Usulan Gafur cukup beralasan. Sebab, intensitas penerimaan siswa baru dari kalangan anak TKI terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selain itu, jika direstui menjadi Boarding School, SMK N yang baru dioperasikan sejak 5 Mei lalu ini, masih memiliki lahan kosong yang cukup luas.
Dia mengungkapkan, luas lahan yang dimiliki SMK N I Sebatik Barat kurang lebih 31,5 hektare (ha). Sementara yang baru terpakai, hanya untuk pendirian gedung berlantai dua dengan kapasitas 12 Ruang Kelas Belajar (RKB), dengan luasan bangunan 800 meter persegi.
Sementara sisanya, masih berupa lahan kosong dan hanya dimanfaatkan sebagian untuk praktek perkebunan sekolah. “Kami sangat berharap pemerintah pusat dapat mempertimbangkan usulan ini. Kebetulan anggota Komisi X DPR RI sedang berkunjung ke Sebatik. Harapan kita, ibu Hetifah dapat menyuarakan ini di pusat,” harapnya.
Dengan jumlah siswa yang ada, dikatakan Gafur, idealnya jumlah asrama cukup dua unit saja ditahap awal. Minimal asrama putra dan putri dibuat terpisah. Kalaupun tidak sepenuhnya ditempati para siswa dari kalangan anak TKI, bisa pula dimanfaatkan siswa lain yang memang bermukim jauh dari kawasan sekolah.
Termasuk siswa-siswi yang berasal dari Kecamatan Sebatik Induk. Sebab, jarak antara Sebatik Barat dengan Sebatik Induk, kurang lebih satu jam perjalanan darat. Begitupula dengan kondisi jalan menuju sekolah ini.
Kendati terletak di Desa Liang Bunyu, waktu tempuh dari pusat Kecamatan Sebatik Barat menuju sekolah ini memakan waktu sampai 30 menit. Pasalnya, status jalan masih sebatas pengerasan. Bahkan ada beberapa titik jalan yang berbentuk tanah merah. Alhasil, ketika musim hujan, jalanan menuju sekolah hampir tidak bisa dilalui kendaraan.
“Bahkan ada beberapa guru yang sudah sering kali mengalami kecelakaan karena licinnya jalan. Termasuk saya,” sambil memperlihatkan luka-luka dibagian lengannya yang baru mulai mongering.
Meski SMK N ini sudah ada sejak 2007 lalu, jurusan yang dibuka sekolah ini hanya jurusan Agri Bisnis Tanaman Perkebunan, Agri Bisnis Perikanan dan yang terbaru jurusan Akuntansi. Sebelum menempati gedung baru, pihak sekolah terpkasa menempel di SMP 9 Desa Setabu, selama 4 tahun.
“Karena gedung sekolah kita masih baru, jadi banyak ruangan yang masih menyatu. Seperti ruang perpustakaan, ruang guru dan kantin, masih satu gedung dengan RKB. Tapi itu tidak terlalu mendesak. Yang terpenting kita dijadikan boarding school dulu,” pungkas Gafur. (dra/radar nunukan)

Tidak ada komentar: